Sekilas Mgs…
Terkait dengan teman-teman yang baru kenal dengan saya selalu menanyakan “Mgs itu apa sih?” Ada yang menganggap Mgs itu adalah gelar akademik “Magister of Science” (dari Israel, kali ya?), ada juga yang menganggap Mgs itu singkatan dari “Makin Gendut Saja”. Dsb… Ada baiknya ku coba jawab saja ya?
Secara umum masyarakat Sumatera Selatan terdiri dari beberapa suku yaitu Suku Ogan, Suku Komering, Suku Ranau, Suku Kisam, Suku Daya, Suku Aji, Suku Musi, Suku Rawas, Suku Beliti, Suku Banyuasin, Suku Kikim, Suku Semendo, dan Wong Palembang (Taqwa, 1997:18). Biasanya kelompok-kelompok etnik ini mempunyai budaya dan adat istiadat yang hampir sama. Akan tetapi tetap ada perbedaan yang sifatnya spesifik, misalnya dalam dialek bahasa sehari-hari. Etnis yang disebutkan terdahulu itulah yang selama ini sering dianggap sebagai penduduk asli Sumatera Selatan atau lebih tepatnya sebagai “indegenous peoples” bagi Sumatera Selatan. Khusus untuk Wong Palembang yang berdiam di dalam kota Palembang, mereka adalah sisa-sisa kerabat bangsawan Kesultanan Palembang, di mana kerajaan ini telah lama dihapuskan oleh kolonialis Belanda. Raja yang terkenal karena kegigihannya berperang melawan Belanda adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Nama raja tersebut saat ini telah diabadikan sebagai nama bandar udara (air port) Palembang yaitu Sultan Mahmud Badaruddin II yang sebelumnya bernama bandar udara Talang Betutu. Mgs itu adalah singkatan dari Masagus. Pemakaian gelar di depan nama orang seperti; Raden (R), Kemas (Kms), Kiagus (Kgs), Masagus (Mgs, Nyimas (Nys), Masayu (Msy) adalah tanda yang paling mudah untuk mengidentifikasi masyarakat Wong Palembang. Wong Palembang ini dalam hal bahasa dan budaya sedikit banyak terpengaruh oleh budaya Jawa khususnya pengaruh pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram Islam dengan rajanya bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang wilayah kekuasannya meliputi seluruh Pulau Jawa dan meluas sampai ke Sumatera (Jambi, Sumatera Selatan, Lampung) dan Kalimantan. Kesultanan Palembang menjadikan Islam sebagai agama negara, maka mayoritas masyarakat Sumatera Selatan memeluk agama Islam. Sisa-sisa kerajaan Islam Palembang masih bisa dijumpai di Kota Palembang misalnya Masjid Agung Palembang atau Benteng Kuto Besak (Kota Besar) di tepi Sungai Musi yang bisa dilihat keindahannya pada malam hari dari jembatan Ampera. Kasultanan Palembang ini tentu saja berbeda dengan Kerajaan Budha Sriwijaya yang hingga kini belum ditemukan lokasi bekas kratonnya. Selain yang telah disebutkan di atas masih ada juga Suku Kubu atau Suku Talang Mamak, atau Suku Anak Dalam (SAD) yang wilayah persebaran pemukiman meliputi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Di dalam kekerabatan Kesultanan Palembang itu, ada hierarki atau kasta yang membedakan pemakaian gelar kebangsawan itu. Adapun urutannya dari yang paling tinggi ke yang paling rendah adalah sebagai berikut:
- Raden (R),untuk anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuannya diberi gelar Raden Ayu (RA). Misalnya R. M. Herlan, RA. Herlina, dst.
- Masagus (Mgs), untuk anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuannya diberi gelar Masayu (Msy). Misalnya Mgs. Hendri, Msy. Afifah.
- Kemas (Kms) untuk anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuannya diberi gelar Nyimas (Nys). Misalnya Kemas Taufik, Nys. Hamidah.
- Kiagus (Kgs) untuk anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuannya diberi gelar Nyayu (Nyayu). Misalnya Kgs. Rozali, Nyayu Cek Non.
Untuk anak laki-laki, gelar kebangsawanannya akan terus ia sandang sampai turun temurun kepada anak cucu cicit dst. Sedangkan bagi anak perempuan Wong Palembang ini, maka gelar kebangsawanannya itu hanya sampai pada dirinya saja. Bila ia menikah dengan laki-laki bergelar Mgs, otomatis semua anak laki-lakinya akan menyandang gelar Mgs, sedang anak perempuannya akan bergelar Msy. Sedangkan bila ia menikah dengan laki-laki di luar trah kebangsawanan tersebut, maka secara otomatis anak dan cucunya akan kehilangan gelar bangsawan tersebut. Tapi ini menurut padangan zaman dulu. Kalo sekarang, kayaknya biasa-biasa aja deh! Istilah kerennya “Nggak ngaruh!” Hari gene, kok maseh pake gelar-gelaran?
Demikian sekilas info. Tapi, aku tetap menggunakannya, hanya untuk menghargai orangtuaku saja. Tidak lebih…