Go Blog Mgs Hendri

wong kito galo…

Archive for the ‘OASE & Inspirasi...’


Kapok Naik DAMRI Antar Kota

Karena tidak kebagian tiket KA, pada Senin, tanggal 30 Maret 2009 yang lalu - saya sekitar jam 18.30 WIB naik bus DAMRI No. 3078 dari Purwokerto tujuan ke Bogor (saya akan turun di Depok). Dengan pertimbangan, PO Bus ini milik Dep. Perhubungan yang tentu saja pelayanannya akan lebih baik dibandingkan PO Bus lainnya. (Yah, minimal mirip dengan Bus DAMRI Bandara-lah, batin saya). Ternyata, yang saya dapatkan hanyalah kekecewaan yang beruntun sampai akhir perjalanan. Betapa tidak, mulai naik dari terminal Bus Purwokerto, baru 1 jam perjalanan, busnya menerima overan dari bus lain, sehingga penumpangnya penuh sesak. Di tengah perjalanan sekitar jam 23.00 WIB, bus terasa pengab sekali, sehingga saya terbangun dari tidur. Ternyata AC-nya tidak nyala sama sekali. Setelah banyak penumpang yang protes, baru AC-nya dinyalakan kembali. Buspun jalannya sangat lambat sehingga sampai di Bandung sekitar jam 5 pagi. Padahal, kata petugas loket ketika di Purwokerto tadi, “jam 4 subuh udah nyampe Depok, kok Pak”.

Tidak jauh dari daerah Kopo, kami penumpang DAMRI yang tujuan Depok-Bogor ternyata dipaksa turun oleh kernet dan diover ke bus ekonomi Turangga yang telah penuh sesak dengan penumpang dan sayur mayur. Lengkaplah penderitaan kami. Saya kasihan sekali dengan ibu yang menggendong anaknya sambil membawa barang yang cukup banyak. Mereka sekeluarga ada 7 orang. Di bus Turangga ini sepanjang perjalanan, ibu itu dan keluarganya mencaci maki sopir Bus DAMRI tsb. belum lagi anak-anaknya yang masih kecil ada sekitar 3 orang yang kepanasan dan muntah-muntah. Tampak sekali kekecewaan ibu itu diperlakukan crew Bus DAMRI seperti itu. Sehingga dia menelpon keluarganya suruh protes ke Pool DAMRI untuk minta kembali separuh uangnya. Padahal kami bayar cukup mahal Rp 65.000,- per orang. Termasuk anak kecil.

Sampai di Jakarta, bus Turangga mampir dulu ke Terminal Bus Pulogadung. Dari terminal Pulogadung, mampir lagi ke Terminal Kampung Rambutan. Akhirnya saya sampai di simpangan Depok sekitar jam 10.00 WIB., sehingga saya hari itu terpaksa harus izin nggak masuk kantor. Di samping memang telah sangat terlambat, juga badan jadi terasa sangat penat. Padahal, kalau benar bisa sampai jam 4 subuh, saya bisa istirahat sebentar dan bisa masuk kantor. Akhirnya, kacaulah agenda kerja saya haris Senin 30 Maret tsb.

Kalau perlakuan Crew Bus DAMRI seperti ini, saya tidak yakin Bus DAMRI ini bisa bertahan hidup untuk berkompetisi dengan PO Bus lainnya. Saya benar-benar kapok naik Bus DAMRI ini (kecuali Bus DAMRI Bandara). Pengalaman ini benar-benar akan saya jadikan perngalaman yang sangat berharga dan akan saya sampaikan ke seluruh keluarga, sanak famili, teman dan semua kenalan saya untuk tidak mau lagi naik Bus DAMRI antar kota.

Penolong Misterius

Pada Rabu malam, tanggal 11 Februari 2009 yang lalu, ketika pulang dari kantor sekitar jam 21.00 WIB, baru setengah perjalanan ke rumah, motor yang saya kendarai putus tali gasnya. Otomatis motor tidak bisa saya gas – yang konsekuensinya tidak bisa saya pergunakan untuk mengantarkan saya sampai ke rumah. Bingung – apa yg harus saya lakukan. Terus terang saja saya sangat tidak memahami otomotif. Akhirnya dengan perasaan kalut saya dorong motor tsb. dari pinggiran jalan selangkah demi selangkah menuju ke rumah saya – yang jraknya masih cukup jauh. Keringat sudah mengucur deras, napas sudah ngos-ngosan. Terbayang, besok pasti pegel-pegel semua nih badan…

Tiba-tiba ada seseorang yang mengendari motor menghampiri saya seraya bertanya “Motornya kenapa Mas?” “Oh ini tali gasnya putus” jawab saya sambil terengah-engah dan coba melihat siapakah orang tsb. Ternyata dia seorang anak muda – yang masih mengenakan helmnya – tapi kaca helmnya ia buka. Namun tetap saja saya tidak mengenali wajahnya, siapa orang tsb.

Boleh saya bantu Mas?” tanyanya lagi. “Gimana caranya?” Jawab saya. “Mas naik aja motor mas, nanti saya dorong dari belakang pakai kaki saya – sampai bengkel terdekat” jawabnya. Dengan perasaan yang tidak menentu, saya refleks menaiki motor saya yang putus tali gasnya itu. Lalu, dengan kakinya ia dorong motor saya tsb. Jalanlah kami menyusuri jalan di tengah malam itu sambil melihat kiri-kanan kalau-kalau ada bengkel yang masih buka. Walau hati kecil saya pesimis di tengah malam seperti ini masih ada bengkel motor yg buka, namun tetap saja kami jalani. Dan yang membuat saya bertanya-tanya terus dalam hati. ‘Orang ini siapa ya, kok baik banget?’

Alhamdulillah tidak berapa lama kemudian di sebelah kanan jalan yang kami lalui, ada bengkel motor yang sedang bersiap-siap mau tutup. Dengan harap-harap cemas, begitu kami samperin, ternyata mereka masih mau menerima kehadiran kami. “Kenapa mas motornya? Tanya petugas bengkel. “Oh ini tali gasnya putus Mas” Jawab saya. Jadilah motor saya diperiksanya. Begitu mengetahui bahwa pihak bengkel akan bisa mengatasinya, maka pemuda yag baik hati tadi langsung pamit kepada saya melanjutkan perjalanannya tanpa sempat memperkenalkan siapa dirinya. Entah kenapa, sayapun seperti dihipnotis hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih tanpa sempat menanyakan siapa dirinya dan dimana alamatnya. Bahkan memperhatikan berapa nomor plat motornyapun tidak terpikirkan olehku saat itu.

Hem.. ternyata masih ada ya orang yang baik hati di tengah carut marutnya tatanan masyarakat kita saat ini. Sungguh, selama ini saya hanya punya niat dan pikiran untuk membantu ketika melihat ada pengendara motor yang sedang mendorong motornya. Yah minimal bisa memberi tahu di mana tempat tambal ban atau bengkel terdekat yang bisa ia datangi. Tetapi anak mudah itu justru telah melaksanakan apa yang baru saya niatkan. Bahkan lebih dari yang saya pikirkan. Subhanallah…..

Terimakasih ya Allah. Pertolonganmu selalu tidak pernah terduga. Kau kirimkan pemuda yang baik hati ketika aku benar-benar sedang sangat membutuhkan bantuan. Semoga saja pemuda itu senantiasa Allah beri kekuatan dan keselamatan di dalam ia mengarungi kehidupan ini. Balaslah kebaikannya itu dengan balasan yang berlipat ganda ya Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin…… (Mgs)

Takut Punya Anak ?

Judul itu -  sebuah pertanyaan yang sempat mencuat dalam batin saya - ketika salah seorang rekan facebook saya  berkomentar “Baru mau punya anak lagi kalau sudah ada rezekinya”

Hem… apakah logikanya tidak terbalik, ya batin saya. Jangan punya rezeki dulu baru mau nambah anak. Anak akan nambah lagi atau tidak itu kehendak Allah. Bila diberi kesempatan punya anak lagi, berarti rezeki untuknya sudah Allah sediakan. Jadi nggak perlu khawatir. Apabila tidak ada rezekinya, maka tidak akan Allah kasih kesempatan dia untuk lahir ke dunia ini. Yang penting selama kita mau selalu berusaha, insya Allah saya sangat yakin akan selalu ada rezeki untuk kita dan anak-anak kita. Dengan cara apa? Memperluas pergaulan dan informasi serta senantiasa menambah skill/kompetensi diri.

Bukankah banyak rekan-rekan kita yang lain yg sudah berusaha ingin punya anak, tetapi belum juga Allah berikan?! Dan sebaliknya, banyak yg tidak menginginkan punya anak lagi tapi Allah beri kelahiran lagi?! Kalau dia cemas dengan rezeki bagi anaknya yang akan lahir lagi ini, maka dia sudah mendahului takdir Allah. Berarti dia tidak percaya dengan janji Allah, bahwa setiap makhluk yang Allah beri kesempatan hidup di dunia ini, pasti sudah ada rezekinya. Dan sebaliknya bila dia sudah tidak ada rezekinya lagi di dunia ini, maka Allah akan ambil kembali…  Yang penting, selalu mau berusaha dan pantang menyerah.

/Salam kompak…

Menolak Draft UU Badan Hukum Pendidikan (BHP)

Belakangan ini marak sekali demo mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta yang menolak terhadap rencana kelahiran UU tsb. Anehnya banyak pula Perguruan Tinggi lainnya yang justru diam-diam saja. Di pihak lain, rektorat dan para anggota DPR justru semangat sekali untuk dapat memutuskan draft tersebut segera menjadi UU. Ini pasti ada sesuatu yang membuat mereka jadi pro dan kontra. Mengapa harus demo-demo yang cendrung menimbulkan perbuatan anarkis? Mengapa tidak mengadakan dialog saja? Masing-masing pihak memegang draft terbaru dari UU BHP tsb. Silakan dipelajari dulu oleh semua pihak yang berseteru. Catat semua yang bisa ditafsirkan akan merugikan masyarakat (kalau ada) dan catat pula kebaikan dari Drfat UU tsb. (kalau ada juga). Setelah itu, tentukan harinya untuk membedah dan mendiskusikan hal ini secara bersama. Bisa saja kegiatan ini difasilitasi oleh media TV atau lembaga lain. Dari sini, akan bisa diambil kesimpulan guna kebaikan bersama. Selesai dan sederhana bukan?
=Salam Damai, Mgs. Hendri =

Mr. Walker Bush Dilempar Sepatu!

Berita itulah yang paling marak belakangan ini. Sejujurnya - terlepas dari beradab atau biadab, sopan ataupun tidak sopan, dan yang sejenisnya - jujur saja saya pro dengan ulah Al-Zaidi ini ~ Si Wartawan Pelempar Sepatu.

Menurut saya, Presiden Bush memang pantas dilempar seperti itu. Presiden kita atau presiden negara lain, kelakuannya tidak seperti Mr Bush ini, jadi tidak mungkinlah akan diperlakukan yang sama ketika berkunjung ke negara sahabat. Bila perlu lemparannya jangan menggunakan sepatu. Tetapi menggunakan granat! Soalnya dialah Presiden yang karena kebijakannya yang salah mengakibatkan banyaknya nyawa melayang dan timbulnya janda-janda dan anak yatim di Iraq.
Saya sangat yakin, apa yang dilakukan oleh Wartawan si Pelempar Sepatu tsb. mewakili keinginan semua warga Iraq yang sudah benci banget atas kelakuan Mr Bush ini. Kalau saja yang lainnya punya kesempatan seperti itu, tentu mereka akan melakukan hal serupa! Bravo Al-Zaidi Wartawan Pelempar Sepatu! Anda sudah masuk dalam catatan sejarah! Walau konsekuensinya Anda jadi babak belur karena ulah sebagian bangsa Anda yang cuma mau cari muka dengan AS. Itulah resiko sebuah perjuangan. Yakinlah, beberapa tahun kemudian, di dalam pelajaran Sejarah Dunia akan ada pertanyaan “Siapakah nama wartawan yang berani melemparkan sepatunya kepada Presiden AS W Bush?”

Prinsip 90/10

Pada beberapa waktu yang lalu, saya pernah dapat forwarding email dari seorang teman yang memuat Prinsip 90/10. Setelah saya renungkan, ternyata benar-benar luar biasa.  Cocok dengan apa yang ditulis oleh Steven R Covey dalam bukunya “The Seven Habit – The Most Effective People” - serta sesuai pula dengan apa yang telah disampaikan oleh Pak Mario Teguh, bahwa sikapilah setiap kejadian secara proporsional.

Benar, bahwa 10% kejadian yang menimpa kita adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa kita hindari. Dan 90%-nya adalah bagaimana cara kita menyikapi kejadian itu.  Dan inilah yang terpenting - yang justru seringkali kita abaikan.  Bukankah seringkali hanya gara-gara masalah sepele bisa membuat bencana kemanusiaan yang luar biasa.

Misalnya:

  1. Sekelompok anak sekolah baru saja pulang sekolah.  Lalu berpapasan dengan anak sekolah lainnya - yang meledek “Awas ayam sayur lewat” (Ini kejadian 10% yang tidak bisa dihindari).  Tetapi bagaimana reaksi anak sekolah yang baru pulang tsb.? Turut membalas? Maka terjadilah tawuran - yg bisa-bisa merengut nyawa mereka atau orang lain yang tidak tahu menahu masalahnya. Tetapi bila mereka mengabaikannya? Maka aman, dan berjalan normallah kehidupan…. Peristiwa ini diawali oleh sebuah kejadian yang sama, tetapi akibat cara menyikapinya yang sangat berbeda, maka bisa memberikan hasil yang sangat berbeda pula (90%).
  2. Anda tengah mengendarai kendaraan.  Tiba-tiba dari samping Anda ada orang lain yang menyalib kendaraan Anda secara sangat tidak sopan. Apa reaksi yang Anda lakukan? Mengejar orang tsb., untuk mengupatnya dengan kata-kata keji? Berarti Anda harus memacu kendaraan Anda. Ketika memacu kendaraan, Anda menyenggol kendaraan lainnya. Ributlah Anda dengan orang ini. Bisa jadi saling pukul atau bisa pula Anda harus mengganti kerusakan kendaraan orang ini. Akibatnya, Anda harus pula berurusan dengan Polisi dan tiba di kantorpun jadi terlambat. Padahal Klien atau Boss Anda sudah lama menunggu - yang akibatnya pertemuan pada hari itu jadi dibatalkan. Hari itu, semuanya jadi kacau-balau! Hanya gara-gara disalib oleh kendaraan lain (kejadian yang tidak bisa Anda hindari).  Tetapi bagaimana kalau reaksi Anda adalah mengabaikan orang yang menyalib kendaraan Anda tadi? Semua akan berjalan dengan normal. Tidak harus ribut dengan pengendara lain, tidak harus bayar ganti rugi perbaikan kendaraan orang itu, juga tidak harus berurusan dengan polisi, serta tidak jadi datang terlambat ke kantor dan semua urusan hari itu berjalan sesuai rencana.  Asyik ‘kan?

Jadi, berpikirlah seribu kali ketika akan menyikapi sebuah kejadian yang benar-benar telah terjadi dan tidak bisa Anda hindari.  Toh bukankah akibat kejadian itu Anda sendiri juga sudah tidak bisa lagi mengubah keadaannya? Jadi bersikaplah bijak, masih banyak pekerjaan lain yang lebih membutuhkan waktu dan energi Anda…

Salam super….

Aku sangat setuju, Merokok Hukumnya Haram!

Ditulis Oleh Rizki Wicaksono
02-09-2008,

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, merokok haram hukumnya
berdasarkan makna yang terindikasi dari zhahir ayat Alquran dan
As-Sunah serta i’tibar (logika) yang benar.

Allah berfirman di surat Al-Baqarah ayat 195 yang artinya, “Dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.”

Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu.
Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat di atas adalah merokok
termasuk perbuatan yang mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.

Sedangkan dalil dari As-Sunah adalah hadis shahih dari Rasulullah SAW
bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta
adalah mengalokasikannya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat.
Sebagaimana dimaklumi bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok
adalah termasuk pengalokasian harta pada hal yang tidak bermanfaat,
bahkan pengalokasian harta kepada hal-hal yang mengandung
kemudharatan.

Dalil yang lain, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “tidak boleh
(menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).

Jadi, menimbulkan bahaya adalah hal yang tidak diberlakukan dalam
syari’at, baik bahaya terhadap badan, akal, ataupun harta. Sebagaimana
dimaklumi pula bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan
harta.

Adapun dalil dari i’tibar yang benar yang menunjukkan keharaman rokok
adalah karena dengan perbuatan itu perokok mencampakkan dirinya ke
dalam hal yang menimbukan bahaya, rasa cemas, dan keletihan jiwa.
Orang yang berakal tentu tidak rela hal itu terjadi pada dirinya
sendiri.

Para perokok selalu merasa cemas dan tidak tenang bila tidak menghisap
zat bernikotin itu. Alangkah berat ia melakukan puasa dan
ibadah-ibadah lainnya karena hal itu akan menghalagi dirinya dari
merokok. Bahkan, alangkah berat dirinya berinteraksi dengan
orang-orang saleh karena tidak mungkin mereka membiarkan asap rokok
mengepul di hadapan mereka.

Semua i’tibar itu menunjukkan bahwa merokok hukumnya diharamkan.
Karena itu, saya mengajak saudara-saudara kaum muslimin yang masih
didera oleh kebiasaan menghisap rokok agar memohon pertolongan kepada
Allah dan mengikat tekad untuk meninggalkannya. Sebab, di dalam tekad
yang tulus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah, mengharap
pahala dari-Nya dan menghindari siksaan-Nya, semua itu adalah amat
membantu di dalam upaya meninggalkan hal tersebut.

Jika ada orang yang berkilah, sesungguhnya kami tidak menemukan nash,
baik di dalam kitabullah ataupun sunah Rasulullah SAW perihal haramnya
rokok, maka cobalah simak penjelasan di bawah ini sebagaimana
tercantum dalam Program Nur ‘alad Darb, dari Fatwa Syekh Muhammad bin
Shaleh Al-Utsaimin, dari kitab Fatwa-Fatwa Terkini 2.

Nash-nash Alquran dan sunah terdiri dari dua jenis;
1. Jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith
(ketentuan-ketentua

n) dan kaidah-kaidah yang mencakup rincian-rincian
yang banyak sekali hingga hari kiamat.

2. Jenis yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada suatu itu sendiri
secara langsung. Sebagai contoh untuk jenis pertama adalah ayat
Alquran dan dua hadis yang kami sebutkan di atas yang menunjukkan
keharaman merokok secara umum meskipun tidak diarahkan secara langsung
kepadanya. Misalnya, fiman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3 yang
artinya, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.”

Jadi, baik nash-nash itu termasuk jenis pertama atau kedua, semua
hamba Allah tetap harus mematuhinya, karena dari sisi pengambilan
dalil mengindikasikan hal itu.

Masih ada beberapa ulama lain yang juga mengharamkan merokok.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim
Rokok haram karena di dalamnya ada racun. Al-Qur’an menyatakan,
“Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka
apa-apa yang buruk (kotoran).” (al-A’raf: 157). Rasulullah juga
melarang setiap yang memabukkan dan melemahkan, sebagaimana
diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah RA. Merokok
juga termasuk melakukan pemborosan yang tidak bermanfaat. Selanjutnya,
rokok dan bau mulut perokok bisa mengganggu orang lain, termasuk pada
jamaah shalat.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Rokok haram karena melemahkan dan memabukkan. Dalil nash tentang benda
memabukkan sudah cukup jelas. Hanya saja, penjelasan tentang mabuk itu
sendiri perlu penyesuaian.

Ulama Mesir, Syria, Saudi
Rokok haram alias terlarang, dengan alasan membahayakan. Di antara
yang mendukung dalil ini adalah Syaikh Ahmad as-Sunhawy al-Bahuty
al-Anjalaby dan Syaikh Al-Malakiyah Ibrahim al-Qaani dari Mesir,
An-Najm al-Gazy al-Amiry as-Syafi’i dari Syria, dan ulama Mekkah Abdul
Malik al-Ashami.

Dr Yusuf Qardhawi
Rokok haram karena membahayakan. Demikian disebut dalam bukunya ‘Halal
& Haram dalam Islam’. Menurutnya, tidak boleh seseorang membuat bahaya
dan membalas bahaya, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan Ahmad
dan Ibnu Majah. Qardhawi menambahkan, selain berbahaya, rokok juga
mengajak penikmatnya untuk buang-buang waktu dan harta. Padahal lebih
baik harta itu digunakan untuk yang lebih berguna, atau diinfaqkan
bila memang keluarganya tidak membutuhkan.

Keharaman rokok tidaklah berdasarkan sebuah larangan yang disebutkan
secara ekplisit dalam nash Al-Quran Al-Kariem atau pun As-Sunnah
An-Nabawiyah. Keharaman rokok itu disimpulkan oleh para ulama di masa
ini setelah dipastikannya temuan bahwa setiap batang rokok itu
mengandung lebih dari 4000 jenis racun berbahaya. Dan karena racun itu
merusak tubuh manusia yang sebenarnya amanat Allah SWT untuk dijaga
dan diperlihara, maka merokok itu termasuk melanggar amanat itu dan
merusak larangan.

Namun banyak orang yang menganggap hal itu terlalu mengada-ada, sebab
buktinya ada jutaan orang di muka bumi ini yang setiap hari merokok
dan buktinya mereka masih bernafas alias tidak langsung mati seketika
itu juga.

Karena itulah kita masih menemukan rokok di sekeliling kita dan
ternyata pabrik rokokpun tetap berdiri tegar. Bahkan mampu memberikan
masukan buat pemerintah dengan pajaknya. Sehingga tidak pernah muncul
keinginan baik dari pembuat hukum untuk melarang rokok.

Ini adalah salah satu ciri ketertinggalan informasi dari masyarakat
kita. Dan di negeri yang sudah maju informasinya, merupakan bentuk
ketidak-konsekuenan atas fakta ilmu pengetahuan. Dan kedua jenis
masyarakat ini memang sama-sama tidak tahu apa yang terbaik buat
mereka. Misalnya di barat yang konon sudah maju informasinya dan
ipteknya, masih saja ada orang yang minum khamar. Meski ada larangan
buat pengemudi, anak-anak dan aturan tidak boleh menjual khamar kepada
anak di bawah umur. Tapi paling tidak, sudah ada sedikit kesadaran
bahwa khamar itu berbahaya. Hanya saja antisipasinya masih terlalu
seadanya.

Sedangkan dalam hukum Islam, ketika sudah dipastikan bahwa sesuatu itu
membahayakan kesehatan, maka mengkonsumsinya lantas diharamkan. Inilah
bentuk ketegasan hukum Islam yang sudah menjadi ciri khas. Maka khamar
itu tetap haram meski hanya seteguk ditelan untuk sebuah malam yang
dingin menusuk.

Demikian pula para ulama ketika menyadari keberadan 4000-an racun
dalam batang rokok dan mengetahui akitab-akibat yang diderita para
perokok, mereka pun sepakat untuk mengharamkannya. Sayangnya, umat
Islam masih saja menganggap selama tidak ada ayat yang tegas atau
hadits yang eksplisit yang mengharamkan rokok, maka mereka masih
menganggap rokok itu halal, atau minimal makruh.

Awalnya belum ada ulama yang mengharamkan rokok, kecuali hanya
memakruhkan. Dasar pemakruhannya pun sangat berbeda dengan dasar
pengharamannya di masa sekarang ini.

Dahulu para ulama hanya memandang bahwa orang yang merokok itu
mulutnya berbau kurang sedap. Sehingga mengganggu orang lain dalam
pergaulan. Sehingga kurang disukai dan dikatakan hukumnya makruh.

Sebagian kiyai di negeri kita yang punya hobi menyedot asap rokok,
kalau ditanyakan tentang hukum rokok, akan menjawab bahwa rokok itu
tidak haram, tetapi hanya makruh saja.

Mengapa mereka memandang demikian? Karena literatur mereka adalah
literatur klasik, ditulis beberapa ratus tahun yang lalu, di mana
pengetahuan manusia tentang bahaya nikotin dan zat-zat beracun di
dalam sebatang rokok masih belum nyata terlihat. Tidak ada fakta dan
penelitian di masa lalu tentang bahaya sebatang rokok.

Maka hukum rokok hanya sekedar makruh lantaran membuat mulut berbau
kurang sedang serta mengganggu pergaulan.

Penelitian Terbaru
Seandainya para kiyai itu tidak hanya terpaku pada naskah lama dan
mengikuti rekan-rekan mereka di berbagai negeri Islam yang sudah maju,
tentu pandangan mereka akan berubah 180 derajat.

Apalagi bila mereka membaca penelitian terbaru tentang 200-an racun
yang berbahaya yang terdapat dalam sebatang rokok, pastilah mereka
akan bergidik. Dan pastilah mereka akan setuju bahwa rokok itu
memberikan madharat yang sangat besar, bahkan teramat besar.

Pastilah mereka akan menerima bahwa hukum rokok itu bukan sekedar
makruh lantaran mengakibatkan bau mulut, tapi mereka akan sepakat
mengatakan bahwa rokok itu haram, lantaran merupakan benda mematikan
yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Prosentase kematian
disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan
kecelakaan lalulintas.

Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan bahwa di Amerika, sekitar 346
ribu orang meninggal tiap tahun dikarenakan rokok. Dan tidak kurang
dari 90% dari 660 orang yang terkena penyakit kanker di salah satu
rumah sakit Sanghai Cina adalah disebabkan rokok.

Penelitian juga menyebutkan bahwa 20 batang rokok per hari akan
menyebabkan berkurangnya 15% hemoglobin, yakni zat asasi pembentuk
darah merah.

Seandainya para kiyai mengetahui penelitian terakhir bahwa rokok
mengandung kurang lebih 4.000 elemen-elemen dan setidaknya 200 di
antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, pastilah pandangan
mereka akan berubah.

Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin dan karbon monoksida. Tar
adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada
paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan
peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan mampu memicu kanker
paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat
hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami
resiko14 kali lebih bersar terkena kanker paru-paru, mulut, dan
tenggorokan dari pada mereka yang tidak menghisapnya.

Penghisap rokok juga punya kemungkinan 4 kali lebh besar untuk terkena
kanker esophagus dari mereka yang tidak menghisapnya.

Penghisap rokok juga beresiko 2 kali lebih besar terkena serangan
jantung dari pada mereka yang tidak menghisapnya.

Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan
gagal jantung serta tekanan darah tinggi. Menggunakan rokok dengan
kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti
kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok
secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

Tidak ada satu pun orang yang bisa menyangkal semua fakta di atas,
karena merupakan hasil penelitian ilmiah. Bahkan perusahaan rokok poun
mengiyakan hal tersebut, dan menuliskan pada kemasannya kalimat
berikut:

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGUGAN
KEHAMILAN DAN JANIN.

Kalau produsen rokok sendiri sudah menyatakan bahaya produknya
berbahaya dan mendatangkan penyakit, bagaimana mungkin konsumen masih
mau mengingkarinya?

Sudah Jodohku…

love_animation.gif
Sahabatku, ketika aku putuskan untuk menikah, aku memang pasrah dengan segala ketentuan dari Sang Maha Pencipta. Sekuat tenaga aku tidak ingin mengatur ataupun ikut campur apa yang menjadi peraturan Allah. Aku kurangi sebanyak mungkin kriteria wanita yang akan menjadi istriku. Paling tidak, kriteria agama menjadi dasar utama pilihanku.

Saat itu, sepertinya Allah menjawab doaku, dengan membisikkan lewat hatiku, sebuah ketetapan yang membuat aku sangat terkejut. Bisikan itu mengatakan, sebaiknya aku memilih wanita yang sedang berada di hadapanku sebagai calon pendamping hidup. Bimbang? Jelas aku bimbang. Karena rasanya, waktu itu, wanita yang ada di depanku belum sesuai dengan harapanku. Kemudian belum sempat aku berpikir panjang, aku sudah dihadapkan pada wanita lain, yang memiliki kelebihan fisik dibanding wanita yang pertama. Hatiku menjadi sangat bimbang.

Aku memang pria biasa. Kalau kuturuti hawa nafsuku, jelas, aku menginginkan wanita yang kedua. Namun Allah berkehendak lain. Aku tetap dipertemukan dan “diproses” oleh Allah dengan wanita pertama. Saat aku meminang dia, hatiku terus berkata, Ya Allah, benarkah ini yang terbaik menurut Engkau?

Aku memang pria biasa. Aku sempat merasa takut, bagaimana kalau dia tidak sesuai harapanku? Bagaimana kalau dia….? Dan seribu bagaimana, menyerang pikiranku. Dan aku tetap bertanya, Ya Allah, benarkah ini yang terbaik menurut Engkau? Hingga menjelang pernikahanku dengan dia, pertanyaan itu terus muncul.

Aku memang pria biasa. Kalau mau jujur, wanita yang sekarang menjadi ibu anak-anakku, memang tidak sesuai dengan kriteria calon istri yang dulu pernah aku miliki. Bahkan setahun setelah kami menikah, pertanyaan, Ya Allah, benarkah ini yang terbaik menurut Engkau?, masih muncul juga. Karena begitu banyak hal yang tidak sesuai dengan harapanku, dipertunjukkan oleh Allah. Alhamdulillah, aku menyikapi dengan menganggapnya sebagai teguran langsung dari Sang Maha Penentu Jodoh. Bahwa untuk menghadapi itu semua, aku harus berilmu. Karena memang aku masih kurang banyak ilmu.

Aku memang pria biasa. Tapi aku yakin Allah telah memberikan kepadaku, seorang wanita yang sangat luar biasa. Begitu luar biasanya dia, aku menganggapnya sebagai My Wonder Woman. Sempat terlintas dalam pikiranku, seandainya dulu aku tidak memilih dia, belum tentu aku menjalani hidup seperti sekarang ini. Sehingga ketika pertanyaan yang sama muncul lagi, Ya Allah, benarkah ini yang terbaik menurut Engkau? Aku menjawabnya dengan, Terima kasih Allah, benar, inilah yang terbaik menurut Engkau. Dengan terus bersyukur, bersabar dan berilmu, Insya Allah, aku sudah mendapatkan wanita seperti yang aku inginkan.

Sahabatku, doakan kami, agar dapat terus istiqomah dalam perjuangan membela agama Allah. Jazakallah khoiron katsiiroo

Piring Kayu Gelas Bambu

piring-kayu.jpg
SEORANG lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya,
Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan
lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram.
Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sendok dan garpu.
Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannya pun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas.
Praaaaaannnnngggggg … !! Bertaburanlah kaca di lantai.
Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam.
Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya.
“Esok ayah tak boleh makan bersama kita,” Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya.
Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya.

Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang arwah isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: “Miah… buruk benar layanan anak kita pada abang.”

Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia teringat cucunya, dia pun menahan diri.
Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu.

Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat piring seperti itu. “Oh! Ya…” bisiknya. Viva teringat,
semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama!.

“Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu,” kata Rina apabila anaknya bertanya.

Masa terus berlalu. Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan, tiada lagi piring atau gelas yang pecah.
Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum.

Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu.
Ada palu, gergaji dan pisau di sisinya. “Sedang membuat apa sayang? Berbahaya main benda-benda seperti ini,” kata Arwan menegur manja anaknya.
Dia sedikit heran bagaimana anaknya dapat mengeluarkan peralatan itu, padahal ia menyimpannya di dalam gudang.

“Mau bikin piring, mangkuk dan gelas untuk ayah dan ibu. Bila Viva besar nanti, supaya tak susah mencarinya, tak usah ke pasar beli piring untuk kakek,” kata Viva.

Begitu mendengar jawaban anaknya, Arwan terkejut. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiiris pisau. Mereka tersentak, selama ini telah berbuat salah!

Malam itu Arwan menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi. Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir wajah kakeknya. Dia tidak bertanya, cuma tersenyum saja, bahagia dapat duduk bersebelahan lagi dengan kakeknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah.
“Esok Viva mau buang piring kayu dan gelas bambu itu” kata Viva pada ayahnya setelah selesai makan. Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya terus sesak.

Jawaban Mengapa Aku Makin Mencintaimu

hati21.gif
Dulu aku mengira setelah menikah segala kebutuhanku akan selalu dilayani oleh sang istri, padahal dalam kenyataannya tidak bisa begitu. Bila suatu ketika istri sakit, isteri bekerja atau sibuk ketika mengasuh si kecil apakah kita sebagai suami akan diam saja? Tentu dibutuhkan kerjasama untuk meringankan bebannya. Bahkan menurut saya, demi menjaga keseimbangan tugas dan keharmonisan kehidupan rumah tangga pekerjaan rumah tangga pun sebaiknya ditangani bersama.

Memang tidak mudah menjalani pernyataan ini, kecuali kita sudah mengalaminya sendiri. Beruntung saya berkesempatan mengalaminya.

Setelah menikah, saya merasakan bahwa kebahagiaan pernikahan kami menjadi terwujud sempurna lewat kehadiran putra pertama saya. Bahkan, kehadirannya juga menjadi motivator penggerak saya untuk lebih giat mencari nafkah.

Namun, rupanya kehadiran si kecil ini lantas mengubah pola hidup keseharian kami dan membutuhkan banyak kompromi diantara kami. Awalnya semua berlaku sebagaimana cerita. Isteri mengurus si bayi dan saya pergi bekerja. Namun, tiga bulan berlalu dan masa cuti kerja isteri pun selesai. Padahal, profesi istri saya sebagai perawat mengharuskannya bekerja dengan sistem shift, yang berarti suatu ketika ia akan bertugas penuh di malam hari.

Saya mendapati kami mulai punya satu ‘persoalan’. Dimana si kecil hendak kami titipkan bila isteri bekerja shift malam? Kedua orang tua istri sudah almarhum sementara ibu saya sudah tua dan tinggal jauh dari rumah kami.

Kami memang punya kerabat untuk menitipkan si kecil setiap kami berangkat kerja. Tetapi saat itu juga hati saya merasa berat dan tidak tenang. Dalam hati kecil saya bertanya-tanya, apakah dia rela bangun malam setiap jam untuk menyiapkan susu, mengganti popok dan melakukan keperluan-keperluan perawatan bayi lainnya? Belum lagi kerabat ini pun tentu harus mengurusi keluarganya pula.

Akhirnya kami memulai kompromi dan memutuskan bahwa saya-lah yang akan menjaga si kecil saat isteri pergi bertugas. Jujur saja, awalnya, istri pun sempat meragukan keputusan ini sebelum akhirnya kami bisa bersepakat untuk menjalaninya.

Malam pertama pun tiba, si kecil telah tidur dengan pulasnya lebih dulu dari saya. Sementara itu, baru beberapa saat kemudian rasa kantuk mendera saya. Namun, baru saja saya beranjak tidur, tiba-tiba si kecil menangis membuat saya sigap terjaga dan mengurusnya. Dan selanjutnya? hampir setiap satu jam berikutnya, si kecil ini selalu terbangun dan memecah kesunyian malam lewat tangisannya.

Saya tahu bahwa tangisan merupakan alat komunikasi pertama yang dikuasai bayi sebelum bisa bicara.

Lewat tangisanlah, bayi mengutarakan keinginan dan kebutuhannya. Jadi saya tak heran atau terganggu lagi jika si kecil menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas ini. Namun, tentu saja saya juga harus siaga. Susu harus selalu tersedia, begitu juga kebutuhan lainnya seperti pakaiannya. Karena jika si kecil bangun dan menangis itu tandanya dia minta susu, pipis, atau buang air besar.

Setiap kali si kecil terbangun, saya selalu melirik jam, melihat bahwa waktu demi waktu telah berlalu. Suatu kali pernah saya shalat subuh saat sudah mendekati jam enam pagi karena masih mengurusi kebutuhan si kecil. Dan pernah juga terjadi, shalat subuh saya sudah tepat waktu, tetapi baru saja hendak bertakbir, si kecil sudah terbangun dan menangis hingga dengan buru-buru saya meraih botol susu dan memberinya minum sambil berbaring disampingnya. Si kecil terdiam dan tidur kembali. Tak sadar saya pun ikut tertidur di sampingnya.

Hal ini berlangsung non stop selama 3 bulan. Namun anehnya, saya tidak merasa capek. Kalaupun ada sedikit rasa letih, maka rasa itu akan hilang begitu saja ketika si kecil bangun menyambut pagi hari dengan mengangkat kepalanya dan menatap saya sambil tersenyum ikhlas.

Setiap pagi, setelah menitipkan si kecil pada kerabat, saya menjemput dan mengantar istri ke rumah. Barulah kemudian saya berangkat ke kantor mengendarai sepeda motor. Tentu saja dengan kehati-hatian ekstra. Bukan apa-apa, sebab saya masih mengantuk!

Setibanya di kantor sebuah media Islam, saya berhadapan dengan saat naik cetak. Maka tak ayal, saya harus rela menatap layar komputer selama lebih dari 9 jam hari itu.

Begitupun, alhamdulillah semua masalah itu bisa teratasi. Bahkan, saat mengingat kelucuan dan senyum si kecil, tidak jarang saya suka tersenyum sendiri di depan layar komputer. Senyuman si bayi memang hanya sebentar, tapi saya selalu mengingatnya dalam hati. Luar biasa, senyum si kecil bagaikan penyejuk hati dan pemompa semangat dalam mencari nafkah.

Saat baru satu malam saja saya menjaga si kecil, saya sudah berpikir, mungkin itulah alasannya mengapa surga itu berada di bawah telapak kaki Ibu. Lalu bagimana dengan menjaga, merawat anak dan keluarga selama 3 bulan, setahun, bertahun-tahun?

Terbayang pula di benak saya sosok ibu yang menghabiskan waktu 24 jam setiap hari untuk merawat bayi. Ia menyusui, menjaga dari segala gangguan, mengganti popok, mendekapnya bila menangis dan masih banyak lagi tugas yang harus dilakukannya. Barangkali surga itu tak hanya berada di telapak kakinya saja melainkan di seluruh tubuhnya.

Bila kita mau berpikir dan merasakan betapa beratnya pekerjaan menjadi ibu rumahtangga, tentu akan timbul kesadaran untuk menghormati, menghargai dan menyangi istri kita karena tugas yang diembannya.

Maka kini saya semakin berempati dengan beratnya pekerjaan menjadi ibu rumahtangga. Semakin dalam pula kesadaran saya untuk menghargai dan menyayangi istri, karena tugas yang diembannya ternyata bukanlah sebuah tugas yang ringan.

* Layouter Majalah Islam