Kapok Naik DAMRI Antar Kota
Karena tidak kebagian tiket KA, pada Senin, tanggal 30 Maret 2009 yang lalu - saya sekitar jam 18.30 WIB naik bus DAMRI No. 3078 dari Purwokerto tujuan ke Bogor (saya akan turun di Depok). Dengan pertimbangan, PO Bus ini milik Dep. Perhubungan yang tentu saja pelayanannya akan lebih baik dibandingkan PO Bus lainnya. (Yah, minimal mirip dengan Bus DAMRI Bandara-lah, batin saya). Ternyata, yang saya dapatkan hanyalah kekecewaan yang beruntun sampai akhir perjalanan. Betapa tidak, mulai naik dari terminal Bus Purwokerto, baru 1 jam perjalanan, busnya menerima overan dari bus lain, sehingga penumpangnya penuh sesak. Di tengah perjalanan sekitar jam 23.00 WIB, bus terasa pengab sekali, sehingga saya terbangun dari tidur. Ternyata AC-nya tidak nyala sama sekali. Setelah banyak penumpang yang protes, baru AC-nya dinyalakan kembali. Buspun jalannya sangat lambat sehingga sampai di Bandung sekitar jam 5 pagi. Padahal, kata petugas loket ketika di Purwokerto tadi, “jam 4 subuh udah nyampe Depok, kok Pak”.
Tidak jauh dari daerah Kopo, kami penumpang DAMRI yang tujuan Depok-Bogor ternyata dipaksa turun oleh kernet dan diover ke bus ekonomi Turangga yang telah penuh sesak dengan penumpang dan sayur mayur. Lengkaplah penderitaan kami. Saya kasihan sekali dengan ibu yang menggendong anaknya sambil membawa barang yang cukup banyak. Mereka sekeluarga ada 7 orang. Di bus Turangga ini sepanjang perjalanan, ibu itu dan keluarganya mencaci maki sopir Bus DAMRI tsb. belum lagi anak-anaknya yang masih kecil ada sekitar 3 orang yang kepanasan dan muntah-muntah. Tampak sekali kekecewaan ibu itu diperlakukan crew Bus DAMRI seperti itu. Sehingga dia menelpon keluarganya suruh protes ke Pool DAMRI untuk minta kembali separuh uangnya. Padahal kami bayar cukup mahal Rp 65.000,- per orang. Termasuk anak kecil.
Sampai di Jakarta, bus Turangga mampir dulu ke Terminal Bus Pulogadung. Dari terminal Pulogadung, mampir lagi ke Terminal Kampung Rambutan. Akhirnya saya sampai di simpangan Depok sekitar jam 10.00 WIB., sehingga saya hari itu terpaksa harus izin nggak masuk kantor. Di samping memang telah sangat terlambat, juga badan jadi terasa sangat penat. Padahal, kalau benar bisa sampai jam 4 subuh, saya bisa istirahat sebentar dan bisa masuk kantor. Akhirnya, kacaulah agenda kerja saya haris Senin 30 Maret tsb.
Kalau perlakuan Crew Bus DAMRI seperti ini, saya tidak yakin Bus DAMRI ini bisa bertahan hidup untuk berkompetisi dengan PO Bus lainnya. Saya benar-benar kapok naik Bus DAMRI ini (kecuali Bus DAMRI Bandara). Pengalaman ini benar-benar akan saya jadikan perngalaman yang sangat berharga dan akan saya sampaikan ke seluruh keluarga, sanak famili, teman dan semua kenalan saya untuk tidak mau lagi naik Bus DAMRI antar kota.