Go Blog Mgs Hendri

wong kito galo…

Archive for December 15th, 2008


Apa Dampak Positif Pornografi ?

Itulah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang siswa SMP kelas II - peserta Seminar “Manfaat ICT bagi Dunia Pendidikan dan Pengaruhnya” yang baru-baru ini diselenggarakan di salah satu sekolah swasta favorite di bilangan Jakarta Selatan. Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak pernah saya duga sama sekali. Yah, selama ini saya dalam beberapa kali presentasi, selalu memaparkan dampak negatif penggunaan internet – terutama dampak pornografi dan belum pernah menyampaikan dampak positifnya! - Karena leluasanya para pengguna mengakses situs-situs porno. Apalagi sekarang, sekali searching di internet bisa ratusan ribu situs yang memuat masalah porno ini. Baik dalam bentuk gambar, film ataupun tulisan. Jelas sangat tidak mungkin untuk selalu bisa memblokirnya baik melalui program Nany Chips, Parent Lock ataupun Setting Squid dan sebagainya.
Sebelum saya jawab, saya balik bertanya kepada siswa ybs. “Apa yang melatarbakangi pertanyaanmu itu? Jawabnya cukup vulgar diiringi dengan sorakan para peserta seminar lainnya – termasuk Bapak dan Ibu guru yang mengikuti seminar tersebut. “’Kan dengan melihat pornografi itu, pasangan suami-istri tsb. bisa meniru-nirunya, ‘coba yok, mungkin enak yang kayak gituan’ “ ujarnya polos. Gerr…. peserta seminar makin ramai saja. “Wah patut dicurigain nih, tahu dari mana tuh anak” seloroh teman-nya yang lain. Suasana jadi semakin ramai. Maklum, berbicara masalah porno di lingkungan ABG – jelas punya resiko dan tantangan tersendiri.
Setelah suasana agak reda, saya jawab juga dengan polos, “saya akui bahwa selama ini saya belum pernah tahu dampak positif pornografi tsb. - sehingga sulit bagi saya untuk menjawabnya. Bila suami-istri dalam melakukan ‘hubungan’ memerlukan bantuan dari luar (stimulus) dengan tontonan yang berbau porno itu, bisa disimpulkan, bahwa suami-istri tersebut selama ini hubungannya kurang harmonis dan tidak romantis. Untuk suami-istri yang memiliki hubungan yang harmonis dan romantis, maka gairah dalam melakukan hubungan suami-istri tersebut selalu membara. Jadi mereka tidak memerlukan stimulus dari luar tersebut” Jawab saya sekenanya – bak seorang pakar seksologi. He…. he….. entah bunyi teori yang sebenarnya bagaimana, sayapun tidak tahu. Yang jelas, dari pengalaman saya dengan istri yah begitu itu…. Kalau lagi mesra, hubungan harmonis – tidak banyak masalah keluarga – kami cendrung romantis. Dan ujung-ujungnya yah selalu bergairah, sehingga terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Tidak peduli, apakah masih di kamar, di dapur, di ruang tamu ataupun di kamar mandi. Pokoknya yang begitulah!… he… he…. (maaf saya sensor dikit ya?)